Rabu, 06 Agustus 2014

Pemberitahuan

0 comments

Halaman ini kian berdebu :(
Tidak, saya tidak berhenti menulis, pada beberapa kesempatan saya menulis. Karena keterbatasan waktu dan pulsa modem, saya memilih menulis dari tab, dan menulis di akun tumblr.

Silakan berkunjung ke kamar baru www.arnova.tumblr.com :)

Jumat, 31 Januari 2014

#1Hari1Ayat: Special Challenge #BackToSchool

0 comments
Alhamdulillah, tidak terasa ini adalah tulisan terakhir saya di bulan Januari. Jazkillah khairan katsira mbak Prima untuk lomba #1Hari1Ayat nya. Lombanya luar biasa, dulu saya pernah terfikir juga untuk membuat project seperti ini di blog, tetapi belum terwujudkan hingga saya ikut #1Hari1Ayat, semoga semangat dakwah kita selalu berapi-api hingga akhir nafas ini, hingga nantinya menjadi saksi bagi kita semua saat Yaumul Hisab nanti, Aamiin. :")

Berbicara tentang kembali ke sekolah berarti berbicara tentang semangat baru.
Horeee! (>.<) temanya pas sekali karena Februari nanti saya akan memasuki dunia profesi (yang juga disebut koas sebagai bahasa gaulnya :p). Dunia kedokteran adalah dunia yang sangaaat panjang masa pendidikannya, begitu kata dosen saya, jadi jangan mengeluh jika bahkan saat teman-teman beda profesi telah bisa menikmati gajinya sendiri, kami masih saja belajar di rumah sakit dan masih menadah dana dari orang tua hiks. Semangaaat!

Sejak saya berusia lima tahun, ketika ditanya oleh guru TK, dengan mantap saya menjawab, ‘Aku ingin menjadi dokter bu!’ Seperti anak kecil kebanyakan, saya hanya tahu bahwa dokter bisa membantu menyembuhkan penyakit, bahwa dokter itu menolong sesama dan tugasnya mulia. Hingga cita-cita itu terus terpatri di dalam diri #eaaa. Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan saya.

Tiga setengah tahun belajar di kampus, hingga sekarang telah menjadi Sarjana tentu banyak mengajarkan saya tentang sebuah arti pembelajaran. Di kampus, sejak pertama kali saya ikut ospek, senior dan dosen-dosen saya selalu menanamkan, ‘Kalian akan jadi dokter suatu hari kelak? Tapi mau jadi dokter seperti apa?’ Pertanyaan tersebut membuat saya berfikir, saya ingin menjadi dokter seperti apa nanti? Apakah dokter yang berorientasi pada materi atau menguatamkan keselamatan pasien? Saya memutuskan untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan berusaha mengaplikasikan itu selama menjalani profesi sarjana kedokteran dulu. Salah satunya adalah dengan tidak menyontek saat ujian karena saya ingin jujur pada diri sendiri dan ingin berusaha dengan sebaik-baiknya usaha untuk pasien-pasien saya kelak. Kemudian, saya juga ingin menyebarkan indahnya Islam saat saya menjadi dokter nantinya. Masih terbayang dalam ingatan saya saat teman saya dinasehati tentang sholat oleh salah seorang dokter Spesialis Orthopedi saat dia berobat, aaah saya ingin seperti itu. :")

Sudah tidak heran lagi bukan bahwa umumnya masyarakat awan melihat profesi dokter identik dengan kekayaan dan cukup eksklusif. Sehingga sudah bukan rahasia bahwa terkadang kita mendapati dokter yang berperilaku kurang ramah atau yang pelit informasi tentang penyakit pasien kepada pasien tersebut. Ini tentu membuat saya sedih, karena terkadang berlaku parts prototo, tidak semua dokter begitu kok. :( Salah seorang teman pernah bercerita tentang perlakuan dokter padanya yang kurang ramah. Ketika bertanya tentang penyakitnya, dokternya cuma memerintahkan “minum obat saja..!” Wah..wah.. Berbeda sekali dengan dokter yang diceritakan oleh dosen saya. Belia bercerita tentang pasiennya yang merasa sembuh hanya dengan bercerita keluh kesahnya kepada beliau. Tanpa obat. Subhanallah.

Dalam hati kecil saya, saya sangat ingin menjadi dokter yang seperti itu, menjadi dokter yang dicintai keluarga dan masyarakatnya. Yang menyembuhkan kan Allah, bukan dokter, dokter hanyalah hamba perantara. Lalu apa yang harus disombongkan? Apa yang harus dieksklusifkan? Bukankah yang Maha Pemberi Ilmu itu Allah?


"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Luqman :18)



Bagi saya, belajar adalah proses sepanjang hayat, pun saat saya menjadi dokter kelak. Namun, setiap proses pembelajaran selalu ada tantangan. Tantangan terbesar adalah bagaimana cara kita untuk menjadi seperti padi. Yup, semakin berisi semakin merunduk. Tangan boleh menggapai langit tertinggi, namun kaki harus tetap berpijak di bumi. Yup, itulah yang saya sebut sebagai karakter. :) Seperti jargonnya SMA Negeri 3 Bandung, Knowledge is Power, but Character is more”.


Apalah artinya ilmu setinggi langit jika tidak diikuti dengan karakter yang baik. Ilmu anatomi, histologi, fisiologi mungkin bisa kita pelajari di buku yang tebal-tebal, akan tetapi karakter? Belajar dari mana?? Simpelnya adalah selalu melihat sekitar, bahwa di atas langit tentu ada langit bukan? Apalah artinya semua ilmu yang kita anggap banyak, padahal sangaaaaaat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Jadi, mari kolaborasikan, semakin kita menuntut ilmu semakin pula mendekat pada Allah agar terhindar dari hal-hal negatif, terutama sifat sombong.

Salah satu resolusi tahun 2014 ini adalah aktif di kegiatan sosial luar kampus. Bersama teman-teman Bakti Nusa Bandung  inshaa Allah kami akan menjalankan gerakan sosial pertama kami yang bergerak dalam empowering disable. Sedikit banyak gerakan ini berhubungan dengan profesi saya nantinya sebagai dokter, yaitu berhubungan dengan manusia di semua kalangan, baik yang normal ataupun yang berkebutuhan khusus. Sekaligus untuk melatih diri ini agar lebih peka terhadap orang lain.

Wah, ini akan menjadi sangat menyenangkan mudah-mudahan! Terutama bagi saya yang untuk pertama kalinya berkecimpung di dunia sosial (non-medis), juga sebagai tantangan bagi saya. Saya kasih bocoran sedikit deeeh, nama gerakan sosial kami adalah Thisable Creative, sasarannya rencananya kepada tuna daksa di Bandung. Bagi teman-teman yang tertarik bergabung bersama kami, belajar bersama kami, feel free to come pada acara promosinya di ITB pada tanggal 1 Februari nanti (besok).  :") *Loh kok ini jadi promosi, hehehe. (^O^)

Alhamdulillah. Semoga salah satu resolusi tahun ini terwujud dan bisa menjadi salah satu proses pembelajaran bagi saya dan teman-teman. Berbagi dan bermanfaat bagi sesama, di tengah kesibukan aktivitas akademik dan amanah kami yang lainnya. Bi' idznillah! :)



Jambi, 31 Januari 2014

Kamis, 30 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Janji Allah

0 comments
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)" (An-Nuur : 26)


Siapa sih yang tidak kenal ayat ini? Apalagi untuk remaja tua seusia saya ini, Hehehe. :p Yup, inilah janji Allah kepada kita, jauh sebelum kita tercipta tentunya, bahwa jika kita berusaha menjadi wanita baik (sholihah), InshaaAllah, jodoh kita kelak pun lelaki baik (sholih). Janji Allah itu benar, memang belum terjadi pada saya, akan tetapi jika melihat teman-teman yang sudah menikah dengan cara yang benar (TANPA PACARAN), waah Subhanallah bahagianya. :")

Saya pernah iseng bertanya pada senior saya yang menikah dengan lelaki sholih yang bahkan dia tidak pernah kenal sebelumnya. "Teh, bagaimana rasanya?", kira-kira jawabannya seperti ini lah, "Janji Allah itu benar, aku awalnya benar-benar tidak membayangkan bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak kukenal, ternyata Alhamdulillah, aku cuma bisa bersyukur Nov." Daan, ketika saya melihat karier perempuannya (senior saya tersebut) waaah jangan ditanya supernya, begitupun karier lelakinya dalam bidang dakwah. :D Daan, ketika melihat langsung mereka berdua saat kami bertemu, mesranyaaa *sampai iri, hehe* :")

Itu baru satu pasangan loh yang saya amati, belum lagi pasangan lain (yakni teman tumblr saya), beliau menikah dengan teman SMP-nya dulu. Ternyata dalam hati, beliau diam-diam memendam rasa selama 8 tahun. Jangankan untuk pacaran, berinteraksi saja jarang, begitu ceritanya. Bayangkaaan!? *lebay* Daaan sekarang mereka menikah, tentu tanpa pacaran. Maka dari itu, saya masih heran dengan orang-orang yang sudah dewasa, sudah mapan, sudah bekerja, masih belum meng-halal-kan hubungannya dengan kekasihnya. Menyedihkan, lebih menyedihkan daripada jomblo, sungguh.

Orang-orang bilang, Jika ingin mendapatkan suami seperti Rasulullah SAW, maka jadilah seperti Khadijah atau 'Aisyah. Jika ingin mendapatkan suami seperti Ali, maka jadilah seperti Fathimah. Rumus yang simpel bukan? :) Yuuk, perbaiki diri!


Jambi, 30 Januari 2014

Rabu, 29 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Menjilbabkan hati dulu??

0 comments
Alhamdulillah, ini adalah hari ke-29 dari perjalanan #1Hari1Ayat :')


Kali ini saya akan membahas ayat yang tidak asing bagi kita kaum wanita, hehehe. Ini bermula ketika saya menonton video Oki Setiana Dewi saat beliau membedah bukunya yang berjudul Melukis Pelangi 2 tahun yang lalu. Kemudian saya pun diam-diam kagum pada beliau. :""


"Aku berusaha untuk terus menerus mendekatkan diri kepada Allah. Ternyata bisa istiqomah dalam berjilbab sulit sekali rasanya, apalagi bagi aku yang dulu terbiasa dengan pakaian-pakaian terbuka. Banyak orang yang berdalih lebih baik menjilbabkan hati dulu baru menjilbabkan fisik. Sampai saat ini aku masih belum paham bagaimana menjilbabkan hati yang dimaksud. Tapi kalo aku boleh berbagi, kenapa kita tidak ubah paradigma itu? 

Jilbabkan dulu kepala kita sambil kita barengi dengan menambah ilmu, setelah itu perlahan semua sisi kehidupan kita akan mengikuti. Aku bisa seperti sekarang ini berawal dari jilbab yang mengikat dileherku. Jilbab inilah yang menyadarkan bahwa bacaan Al-Qur’an-ku masih berantakan. Dengan jilbab ini aku menyadari ilmu agamaku yang masih minim. Maka tidak ada lagi pilihan kecuali untuk terus menerus belajar mendalami Islam. Jika sudah seperti sekarang, apa itu berarti hati ini sudah terjilbapi? Hanya Allah Yang Maha Tau. Sederhananya, satu hal yang aku imani bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup manusia di bumi ini dan perintah menutup aurat telah tertulis JELAS jauh disana sebelum kita diciptakan."
-Melukis Pelangi, Oki Setiana Dewi

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Al-Ahzab 59)


Mari buat bidadari di Surga cemburu, salah satunya dengan menutup aurat sesuai yang diperintahkan-Nya. Ga perlu ribet ngikut model sana-sini, iket pita ini itu, dililit-lilit sedemikian rupa, dan wudhu-nya pun jadi ribet #ups! (^o^"),V . Allah telah menjelaskan detail tentang model yang terbaik gimana. Silakan dicek di Q.S An-Nuur: 31 dan Q.S Al-Ahzab: 59.
"The sun doesn't lose its beauty when covered by the clouds. The same way your beauty doesn't fade when being covered by Hijab" - dari twit bergambarnya @farizdwiky

Jambi, 29 Januari 2014 

http://fitribundanenaura.blogspot.com/2012/06/menutup-aurat-yuuuuuukkkk.html

Selasa, 28 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Everything happens for a reason ..

0 comments

Everything happens for a reason ..

Kalimat yang mungkin sudah berkali-kali saya dengar, dan Alhamdulillah sampai hari ini saya masih percaya. Segala sesuatu itu terjadi, ada alasannya.

Mungkin kadang kita pernah merasa "kenapa ya semua ini terjadi ke saya", "kenapa orang lain hidupnya bahagia selalu", dan kenapa kenapa kenapa yang lainnya.

Kadang semua kenapa kenapa kenapa itu tidak perlu kita cari jawabannya. Kalo tahu itu adalah karunia, berarti ketidaktahuan juga merupakan karunia. Begitu lah hidup. Seimbang!
Artinya, ada memang hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan dan memusingkan diri sendiri. Ya, karena kita manusia, ada batasnya. :D

Maka solusinya, biarlah kita tidak tahu untuk hal-hal yang tidak penting itu sekarang. Jalani saja, dengan segala ketidaktahuan kita "mengapa hal itu bisa terjadi".  Sehingga segala kerumitan dan beratnya hidup akan berlalu bersama waktu.

Insya'Allah
suatu hari nanti kita akan paham.

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An'aam : 59)



Jambi, 28 Januari 2014

Senin, 27 Januari 2014

#1Hari1Ayat : Dua Pilihan

0 comments
Dulu, saya pernah kagum pada beberapa teman yang jarang diajak ngobrol oleh laki-laki. Kagum pada tingkah anggun mereka dalam bersikap di depan umum. Padahal, saat kami kumpul bersama, mereka sama seperti saya, sama-sama “rame”, sama-sama senang tertawa, ceria, seperti remaja-remaja mungil lain kebanyakan.
Seiring semakin bertambahnya usia kami…

Sikap yang unyu itu berubah saat mereka di tengah keramaian. Bermetamorfosis menjadi anggun. Sampai-sampai tidak ada laki-laki yang berani mengganggunya. Jangankan mengganggu, menegur saja segan. Malu. Hingga membuat saya semakin bertanya-tanya. Mengapa mereka demikian berbeda?? Mereka lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak diam daripada tertawa, lebih memilih tidak diperhatikan dan diabaikan.

Sebaliknya, saya melihat beberapa teman yang jika kami bermain “truth or dare”, namanya tidak asing lagi, hampir selalu disebut-sebut oleh laki-laki, untuk pertanyaan “truth” : “Siapa yang paling seksi menurutmu?” “Siapa yang paling kamu suka di kelas ini?” “Siapa yang paling cantik menurutmu?”

Mereka selalu dicari-cari oleh teman laki-laki kami. Tidak segan teman laki-laki memeggang tangan dan memeluk mereka. Tidak ada masalah juga bagi mereka. Semua baik-baik saja.
Dua fenomena berbeda. Bisa jadi, ada dalam situasi yang sama. Teman saya bilang, hidup itu pilihan. Mau memilih yang A atau yang B, itu tergantung kita. Mau masuk surga atau neraka, itu juga pilihan kita. Bahkan, untuk ber-Islam pun tidak ada yang memaksa, semua kita yang memilih. Maka memilih lah dengan bijak, agar diri ini selamat. :)
 
 
  "Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah-lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik."
-Q.S Al-Ahzab 32


Hingga suatu hari saya paham, ada yang lebih berhak untuk semua kecantikan seorang wanita. Ada yang lebih berhak untuk manja-manjanya, lemah lembutnya dan bahkan fisiknya yang sempurna. Tidak lain adalah suaminya, nanti.

Ironinya, sedikit yang tahu. Sangat sedikit yang paham. Lebih sedikit lagi yang mengaplikasikan.



Jambi, 27 Januari 2014
 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template