Jumat, 27 Juli 2012

Uang dan Batu

Dahulu kala ada sebuah kisah, seorang pemudi sedang berjalan sendiri. Jauh perjalannan yang akan ia tempuh. Tanpa bekal, sepertinya ia cukup tangguh dengan mengandalkan dirinya dalam perjalannan jauh tersebut. Kemudian, setelah jauh berjalan, pemudi itu menemukan uang. Meski kaget, tanpa pikir panjang, ia ambil uang itu. "Lumayan buat bekal", gumamnya.

Terus berjalan, dan lagi-lagi ia menemukan uang. Dan sekarang jumlah nominalnya lebih besar daripada sebelumnya. Diambil lagi. Ia makin mantap dengan begitu banyak uang di kantongnya. Lalu, ia menemukan uang lagi. Diambil lagi.

Terus berjalan, tiba-tiba dia merasa seseorang melemparinya batu.
"Buuugh!" Dia pun kesakitan. "Aduh siapa sih yang iseng?", pikirnya. Ia menoleh ke belakang. Memutar kepalanya 180 derajat, dan berteriak dengan kesal, "Siapa yang lemparin batu? Ngakuuu woiii.." Lelah marah-marah sendiri, dia terus berjalan lagi. Namun, sekarang batu lebih besar mengenai tepat di kepalanya. Mukanya memerah marah. Mundur ke belakang, berjalan dengan mengenggam tangan kuat-kuat, rasanya ingin membuat perhitungan terhadap si pelempar misterius itu. 
"Heiii siaapa yang ngelempar?", teriaknya.
"Siapa woii? Siapa ? Siapa?"
*muka pemudi di-zooming ke kamera*
Hasilnya nilil. Si pelempar batu tak kunjung keluar.


Begitulah manusia. Saat diberi nikmat, ia lupa bersyukur, berterima kasih pada Sang Pemberi Nikmat. Lupa diri. Acuh. Sombong, dan kemudian kufur. Saat diberi sedikit ujian, ia kesal. Marah. Menyalahkan. Tak sadar diri. Sibuk mencari-cari Tuhannya, bertanya-tanya "kenapa harus dia yang diuji? kenapa seberat ini ujiannya?" Baru lah, kita memohon pada-Nya agar diringankan, agar dikuatkan. Barulah kita kembali bersujud menangis pada-Nya.

Terkadang, Allah punyca cara sendiri untuk membawa kita kembali pada-Nya. Kembali mengingat nikmatnya saat kita lupa. Dengan penuh kasih sayang, ia memanggil hambanya lewat ujian-ujian kecil, agar hambanya sadar, bahwa nikmat yang banyak itu juga sama hal nya dengan ujian, sama-sama datang dari-Nya.

Cerita sore ini adalah randoman saya. Ketika menanti adzan Ashar di kediaman saya, gubuk indah yang selalu saya rindukan, di Komplek Artha Uli Utama, Beringin Thehok, Jambi Selatan, Kota Jambi.

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template