Sabtu, 11 Agustus 2012

Suatu hari di Depok

Saya lupa kapan pastinya saya--untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sana. Mungkin 20 Juli kemaren. Ide ke sana adalah wujud keisengan saya dan Amatullah ditengah kesibukan mengurus ini dan itu di Jatinangor. Tidak melakukan aktivitas akademik begitu lama membuat kami gerah di Nangor. Ide random itu kita wujudkan dengan modal nekat, sekalian menyambung silaturrahim dengan seorang teman lama, namanya Liza.

Terminal Cileunyi, 10:00 WIB
Memiliki tampang antagonis sangat diperlukan saat berpergian, khususnya di terminal. Hehehe. Saya bersyukur memilikinya. Kita yang masih 'engga tau mesti naik apa' cuma bisa bengong nungguin Primjas arah Kampung Rambutan, tentunya pake muka antagonis biar ga ada yang gangguin. :p

Setelah sekian lama menunggu, saya dan Amatullah terjebak di sebuah bus eksekutif, hiks. Ternyata Primjas arah Kamp. Rambutan semuanya eksekutif, ga ada yang ekonomi katanya. Apa boleh buat, Alhamdulillah nyaman banget. T_T

Kampus UI DEPOK, 13:40 WIB
Depok panasnya Subhanallah! Saya bener-bener ga kuat deh, jalan mulu tanpa arah. Nyasar. Nanya sana sini. Untungnya ada Amatullah, si Melankolis yang selalu bikin nyaman dalam perjalanan. :)

Sangking engga kenalnya saya sama daerah ini, naik bikun aja sampe muter-muter ga jelas. Zzzzz. Alhamdulillah, sesampainya di FMIPA, senyuman dan pelukan hangat seorang teman lama menyambut saya dan Amatullah. Istirahat dan makan siang deh di Kantin FMIPA.  

Tiba-tiba terlintas ide nakal Amatullah, untuk bertemu seseorang di masa lalunya. -__-". Dasar bocah. Ya, tidak ada salahnya memang menyambung silaturrahim yang pernah putus. Pahala kan, Insya'Allah. Kita pun beranjak ke FKM UI, tinggal sedikit jalan dari FMIPA.

FKM UI
Kampusnya lumayan sejuk, meski ga sesejuk kampus saya. Ribut sama suara pembangunan gedung FK UI, yang gedungnya tepat di samping FKM. Kita menanti seorang cewek di sebuah taman. Panas. Kemudian sesosok cewek itu datang menghampiri kami dengan senyuman tulusnya.

Sepertinya ini sudah bukan area saya. Maka saya beranjak mencari toilet, mau cuci muka. Biar lah Amatullah datang sendiri ke masa lalunya.

Setelah saya kembali. Suasana berubah jadi hening. -__-". Ternyata ada sesuatu yang terjadi barusan. Amatullah hanya diam seratus-ribu bahasa. Awkward moment! Percakapan pun menjadi basi. Sampai-sampai saya bingung mau ngebahas apa lagi. Ini udah kaya wawancara pengkaderan seseorang saat mau jadi pengurus organisasi. Datar.

Suhu Amatullah berubah jadi dingin, sedingin es. Amatullah bahkan tidak menyimak beberapa cerita-cerita saya selama kami berjalan kaki. Hiburan dan berbagai atraksi saya sama sekali tidak membuat senyuman muncul dari mukanya. Huff!

Matahari hampir terbenam, saatnya kita menunggu jemputan Liza. Kita sengaja menunggu di Fasilkom. Alasannya? Saya mau nge-charge hp di taman Fasilkom. Eh itu taman atau kantin ya?!

Sesampainya di kosan Liza. Saya lelah. Sepertinya hari ini berakhir dengan kelelahan belaka. Padahal seneng udah bisa rihlah mandiri ke Depok, kapan lagi coba bisa kesana?! Mungkin karena syok sama panasnya kali ya. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang besok pagi.

Jatinangor (lagi)
Melihat kampus Unpad penuh kebahagiaan. Seakan-akan kami telah lama pergi meninggalkan kota kecil ini.
"Kampus kita emang yang paling adem ya!"
Benar kata orang bijak, sesuatu itu akan berasa sangat berharga saat ia hilang, saat ia pergi, saat ia jauh. Kepergian saya dan Amatullah sehari saja meninggalkan Jatinangor, membuat kami ingat bahwa hampir setiap harinya kami tidak bersyukur bisa kuliah disini. Depok menyadarkan saya dengan kepanasan cuaca dan orang-orangnya. Sangat berbeda memang dengan Jatinangor. :)

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template