Rabu, 26 September 2012

te-la-dan !

Keteladanan adalah cara mudah untuk mencontohkan.

ke.te.la.dan.an (n) hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh -Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kira-kira itu pesan yang saya tangkap dari tausyiah seorang teman saat mentoring beberapa minggu yang lalu.

Te-la-dan! Te-la-dan! Kata yang sudah tidak asing di telinga kita pasti. Banyak orang pinter ngomong ini dan itu, mengkritik ini dan itu, tapi menurut pengamatan saya, sedikit orang yang memberi teladan, sedikit orang yang bisa meng-integritas-kan antara kalimat yang diucapkannya dengan perbuatannya.

Saya paham kenapa ada orang bilang, "peraturan itu ada untuk dilanggar". Kenapa ya? Karena yang membuat peraturan juga melanggar. Otomatis yang lain pun melanggar. Mmmm... balik lagi ke kata te-la-dan.

Ini agar miris, sekaligus ironis, di negara saya, negara ini, negara kita, stok teladan itu masih sangat minim, mungkin minus. Coba aja liat di sekeliling kita, misalnya sebut saja tentang keteladanan waktu. Yang membuat peraturan untuk tidak telat adalah guru, guru menyampaikan "jangan telat" ke anak muridnya. Anak muridnya pun berusaha mematuhi, "ya bu, kami tidak akan telat". Seiring perjalanan waktu, liat lah faktanya, fakta bahwa bagaimana jika muridnya telat, tentu saja murid akan dihukum. Sebaliknya, fakta jika guru yang telat, tentu saja guru tidak boleh dihukum, karena guru selalu benar.

Mari kita berkhayal lagi, dengan cerita tentang seorang guru yang menjelaskan pada muridnya, bahwa bumi itu bulat. Seluruh anak murid yang lain percaya, "ya, bumi bulat, karena guru bilang begitu". Namun, ada seorang atau beberapa anak murid yang bilang, "bu, bumi tidak bulat, ada cekungan di bumi, dan itu terisi oleh air, contohnya lautan. ada gundukan besar di bumi, contohnya gunung. bagaimana bisa bu bumi itu bulat?" Mari kita khayalkan bagaimana respon bu guru!

Baiklah! Karena ini adalah cerita saya, maka saya akan mengkhayalkan bu guru berubah jadi marah. Tentu saja bu guru engga mau kalah, toh dia guru, udah bertahun-tahun, mana bisa dipatahkan oleh murid-murid ingusan seperti anak-anak tersebut. Maka pilihan terbaik untuk murid tersebut, tentunya hanya diam. Karena walau bagaimana pun guru adalah guru, guru selalu benar, murid selalu salah katanya. Padahal, faktanya, jelas-jelas pendapat murid tersebut tidak bisa ditolak mentah-mentah. Bagaiman jika murid tersebut tetap keukeh sama pendapatnya? tentu saja akan dicap sebagai murid sombong yang tidak beretika, melawan pada gurunya. Oke, saya mulai paham bagaimana perasaan Einstein atau Thomas Alfa Edison yang katanya dianggap idiot oleh gurunya, sanging cerdasnya. Padahal andai saja dulu mereka tau, murid yang mereka anggap bodoh itu menghasilkan sesuatu untuk manusia yang lain, Einstein dengan teori relativitasnya, begitu juga Edison dengan berbagai penemuan hebatnya. *saya lupa apa, dulu pernah baca di perpus SMP* -.....-"

yak, abaikan cerita randoman saya di atas, itu resmi hanya fiktif belaka, resmi pemikiran tidak sehat saya saja. Intinya adalah keteladanan itu perlu. Ga perlu koar-koar dulu, jika memang kita ga sanggup menyampaikan, maka contohkan dulu keteladanan itu. CONTOHKAN! Kenapa seseorang bisa terlihat keren, karena dia berintegritas! Ucapan dan kelakuannya itu sejalan.

Ayo jadi orang keren!! Tegakkan peraturan. Jangan takut salah jika kita memang ada pada jalan kebenaran. Meski seisi dunia mencaci maki, ada Allah yang Maha Memuji.

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template