Senin, 07 Januari 2013

The Geography of Bliss : Negara mana yang paling bahagia?


Berawal dari niat tulus saya yang ingin menyelamatkan Naf dari segala godaan buku-buku-yang bisa mengoyahkan imannya untuk berpaling dari belajar SOOCA-, dan akhirnya pun saya ikutan terjebak pada godaan buku-buku tersebut :'""'). Naf sudah menasehati padahal, 'kamu jangan ikutan terjebak Nov!' Namun, pagi ini saya ter-jebak! Hihihi :p

Berawal dari seorang Eric, seorang jurnalis, yang ingin melihat dunia. Mencari yang namanya "kebahagiaan". Beliau berusaha mencari tempat-tempat dimana banyak orang bahagia, dengan pergi membawa tas punggung dan buku catatannya dari 1 negara ke negara lain. Beliau mencoba mendeskripsikan arti bahagia dari tiap-tiap negara yang Ia kunjungi. Mulai dari berkunjung ke Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, India dan Amerika.

Saya ga berani baca semua. Sesungguhnya saya takut semakin jatuh tergoda untuk membaca lebih lama. Sebaiknya jangan. Karena tepat 7 hari lagi, akan ada S**CA! (~"-.-)~

Tertarik dengan tempelan warna-warni yang ditempel sama Naf di beberapa halaman buku, tentang Swiss dan kebahagiaan orang-orang disana. :"". Swiss, kebahagiaan adalah kebosanan. Orang Swiss yang menyenangkan, netral, membawa pisau tentara, memakai arloji (sesungguhnya ini Arnova banget X"D, arloji-dependent!), dan makan cokelat. Orang Swiss-yang sepertinya rendah hati, tidak sombong dan tidak suka membuat iri.

"orang Swiss bahagia karena mereka benar-benar berusaha untuk tidak menimbulkan iri pada orang lain. Secara naluriah, orang Swiss tau bahwa rasa iri adalah musuh besar kebahagiaan.." -halaman 60

"Cara Amerika adalah : Anda punya, pamerkan. Cara Swiss adalah : Anda punya, sembunyikan.." - halaman 61

Berbeda dengan Amerika, Kebahagiaan adalah rumah. Amerika Serikat adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang mempunyai tujuan kebahagiaan dalam dokumen pendiriannya, begitu yang tertulis di buku ini. Negara adidaya, yang siapa sangka, ternyata dalam perjalanannya Eric menemukan kesimpulan, banyak uang tidak linier dengan bahagianya seseorang. Terbukti dengan, jika dilihat dengan kasat mata, sepertinya Amerika punya segalanya. Namun AS bukan negara paling bahagia di dunia, salah satu survei membuktikan AS mendapat urutan ke-23 sebagai negara bahagia.

Jadi, di Amerika, kebahagian itu adalah rumah. Orang-orang disana pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mencari tempat, yang mereka sebut surga. Surga adalah sasaran berpindah-pindah. Orang-orang yang diwawancarai oleh Eric, banyak bercerita tentang sebuah kota yang bernama Asheville. Menurut mereka, disana mereka merasa bahagia, menemukan surga. Mereka suka kelembutan udaranya, seakan-akan udara yang berhembus itu mengelus-elus kulitnya. Ada yang istimewa di Asheville, begitu katanyaaaa.  Boleh saya menyimpulkan? Sepertinya, rasa rindu orang-orang America pada Asheville itu ibarat orang-orang Jakarta yang merindukan puncak setiap akhir pekannya. Ya, mereka mencari ke-tenangan!  Mungkin. 
***

Keren, buku ini membuat saya ber-imaginasi, imaginasi tentang berkeliling di bumi Allah yang sangat amat luas ini. tentang perjalanan yang membahagiakan. Bertemu berbagai jenis watak dan peradaban. dan tentang memetik hikmah di setiap kesempatan~ :)

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template