Minggu, 24 Februari 2013

0 comments
"... kami menyeru kalian kepada Islam, ajaran-ajarannya dan hukum-hukumnya. Apabila menurut kalian seruan ini adalah politik, maka itulah politik kami. Apabila orang yang menyeru kalian kepada itu semua adalah politikus, maka Alhamdulillah kami adalah orang-orang yang paling ulung dalam politik. Dan, apabila kalian ingin menyebut itu sebagai politik, maka katakanlah sesuka kalian. Sebab nama tidak akan membahayakan kami, selama muatan telah jelas dan tujuannya terungkap."
- Hasan Al Banna

Fatih Seferagic, Seorang 17 tahun yang Hafidz Qur'an

0 comments
Seorang pemuda, 17 tahun, yang akan membuat takjub seluruh dunia. Dan harusnya membuat malu remaja-remaja seumurnya, termasuk saya yang udah tua (T__T). Hiks, hiks. Seorang pemuda yang mungkin sangat amat sulit ditemui di Indonesia, terlebih di masa K-pop yang makin merajalela. Hiks hiks..

Ialah Fatih, seorang pemuda yang tinggal di Texas, Amerika Serikat. Berkebangsaan Bosnia dan lahir di Stuttgart, Jerman. Mulai menghafal Al-Qur'an sejak umur 9 tahun, dan menjadi hafidz pada umur 12 tahun (mesti bilang wow? JELAS HARUS BILANG WOW!). Ia melatih hafalannya dibawah bimbingan Syekh Qari Zahid dan Qari Abid. Sekarang, sambil bersekolah, ia juga mengajarkan Al-Qur'an dan menjadi ketua remaja mesjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas.


Ini baru namanya pemuda!
Wahai pemuda Indonesia, khususnya remaja dan tentu saja yang lebih tua *termasuk saya (T_T"),
tidakkah kita merasa inferior? Ngapain aja selama ini?
Yokk, mari mencambuk diri lebih keras lagi,
kerahkan tenaga yang lebih extra untuk berlari dan berlari, demi memenangkan "lomba" ini.
Belum terlambat, InsyaAllah.


Dari berbagai sumber :

Doa, Ibarat anak panah

0 comments
Dari Al-Imam As-Syaafi'i rahimahullah,
"Apakah engkau mengejek DOA dan menyepelekannya?
Tidakkah engkau tahu apa yang bisa diperbuat oleh DOA?
Bagaikan anak panah yang dilepaskan di malam hari, yang TIDAK AKAN MELESET,
anak panah itu hanya perlu waktu dan setiap waktu itu pasti akan datang/pasti ada akhirnya".
sumber gambar : www.rumahpintar-kembar.com

Terinspirasi dari papa yang seringkali bilang ke saya, "Jangan remehkan doa". Selalu, setiap dalam keputusasaan, buntu, saat saya bahkan udah ga tau mesti ngapain. Beliau selalu bilang, "doa aja". Doa. Doa. Doa.

Allah, Maha Kuasa.
Maha Membolak-balikkan segalanya. Sangat mudah bagi Allah.
Manusia yang lemah dan hina ini, sudah difasilitasi oleh-Nya untuk berkomunikasi dan memohon pertolongan-Nya melalui sholat dan doa.
Sehingga harusnya tak perlu lagi ada rasa khawatir, karena telah menggantungkan harap pada-Nya. :')

Subhanallah.

Selasa, 19 Februari 2013

Allah, Sebaik-baik Penolong

0 comments
Suatu hari, seorang teman memanggil saya. Saat mata kami saling bertemu, ia memberi kode agar saya menghampirinya. Saya pun menghampirinya, meski dalam hati heran. Setelah duduk tepat di sampingnya, ia langsung menyenderkan kepalanya dan memeluk lengan saya.

Beberapa menit ia bercerita tentang skripsinya, bercerita tentang betapa sulit ia membangun hubungan baik dengan pembimbingnya dan lain lain.

Sesungguhnya saya begitu speechless, karena faktanya,  keadaan saya pun tak lebih baik darinya. Bahkan mungkin lebih berat menurut saya. Bahkan mungkin lebih menyedihkan.

Namun saya coba membahagiakannya dengan tidak mengeluhkan hal yang sama. Mencoba berfikir positif dan dalam hati pun mempositifkan pikiran saya. Menentramkan hatinya dan diam diam menentramkan hati sendiri.

Oh Allah, Engkau Maha Mengetahui sebatas apa kemampuan hamba-Mu. Maka, kuatkanlah!

Tidak mengeluh, berusaha bersyukur atas apapun keadaan, dan mengingat-ingat Allah, cukup membuat saya kuat akhir-akhir ini. Daripada mendengar kata SEMANGAT yang sebenarnya tidak berarti dan tidak membantu.

Sungguh Allah, sebaik-baik Penolong!

Selasa, 12 Februari 2013

hei Cantik !

0 comments
Untuk dirimu yang cantik,


you don't know, you don't know you're beautiful ~

Untuk semua saudaraku, yang masih belum percaya bahwa ternyata Allah sangat sempurna menciptakannya. Terlahir cantik dengan keIslamannya.

Untuk saudaraku, yang belum sadar, bahwa dengan tersenyum saja ia sudah cantik.

Untuk saudaraku, yang belum percaya bahwa dirinya itu lebih berharga daripada emas dan sutra.

Untuk saudaraku, yang masih belum percaya bahwa Allah akan semakin mencintainya jika ia cantik apa adanya, tanpa perona wajah yang merah, warna warni bola mata yang besar, dan segala yang justru malah melunturkan kecantikannya.
Yang bangga dengan kain panjang yang melindungi tubuhnya.
Yang tentu saja, tidak akan tercuri perhatiannya dengan pakaian-pakaian kurang bahan.

Untuk saudaraku yang tentu saja "harganya mahal", tak gampang disentuh tangan nakal.
Yang tidak berminat dilirik semua mata yang memandang.
Yang tidak pernah takut dicaci oleh bibir bibir tajam.

Untuk saudaraku, yang kelak akan mengajari generasi setelahnya,
Yang kelak akan jadi contoh anak-anaknya,
Yang akan membawa harum nama suaminya,
Yang membuat bangga kedua orang tuanya.

Untuk saudaraku, yang lebih baik daripada bidadari Surga, InsyaAllah ..

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang sholeh
-H.R Muslim

Senin, 04 Februari 2013

Pesan Seorang Anak

0 comments
Selamat datang hari pertama semester 6, GastroInstestinal System (GIS). Ya, hari pertama, biasanya sih saya masih denial gitu, ~(-.-")~ tapi saya mencoba mendewasa dengan menyikapi dengan hati yang lapang terhadap 4 sistem menuju Sarjana Kedokteran ini, Aamiin. Bismillah, meski jadwal semakin padat merayap, tapi semangat tetap membara ! x'D

Yak, kembali ke jalan yang lurus, -..-"
Postingan kali ini adalah hasil keisengan saya di atas udara (baca : dalam penerbangan Jakarta-Jambi). Saat itu saya sedang membaca majalah edisi bulanan yang biasanya dibuat oleh maskapai tersebut. Saya tertarik dengan sebuah artikel yang berjudul sama dengan judul postingan saya kali ini.

Isi artikel tersebut berisi tentang ketakutan-ketakutan orang tua terhadap anaknya, takut tak bisa menjadi yang terbaik, takut tak bisa memenuhi segala kebutuhan anak, takut tidak bisa mendidik anak dll.  Penulis pun merenung, dan berjalan ke masa lalunya, meresapi dirinya dulu saat menjadi seorang "anak". Hingga penulis mengambil 9 kesimpulan, yang berisi pesan anak terhadap orang tuanya. Saya yang kala itu langsung tertarik sama isi 9 pesan tersebut, lirik sana lirik sini nyari pulpen demi nulis di blog ini. Bayangkan sodara-sodara ! (O_O)9

#1. Janganlah malu bila tidak memberiku baju yang bagus, malu lah bila baju bagus itu membuat ku angkuh

#2. Janganlah merasa minder karena aku tidak bisa bernyanyi, minderlah bila aku tidak bisa bergembira ketika aku menyanyikan lagu yang riang.

#3. Janganlah menyesal bila tidak memberiku mobil yang bisa mendampingiku, menyesal lah bila tidak bisa mendampingiku dimana aku berada

#4. Janganlah merasa kalah ketika tidak bisa membelikan aku rumah, merasa kalah lah ketika aku tidak bisa membangun rumah tangga yang baik

#5. Janganlah menjadi kecut karena tidak pernah merayakan pesta meriah untuk ku, tapi merasa kecut lah ketika aku selalu berpesta pora dalam hidupku.

#6. Janganlah takut bila tidak memberi ku kursus keterampilan, takut lah bila aku tidak terampil membawa diriku dalam mengarungi kehidupan ini

#7. Jangan lah cemas bila aku tidak bisa menghitung dengan baik. Cemas lah bila aku selalu memperhitungkan hal-hal yang baik

#8. Jangan lah sedih karena tidak mengajariku ilmu yang tinggi, sedihlah bila tidak mengajari ku cara menggunakan ilmu itu

#9. Jangan lah marah bila aku masih sering berbuat salah, marah lah bila aku tidak pernah belajar dari kesalahan itu

oleh Jemy V. Confido


Dari artikel tersebut saya belajar, dari rahim manapun kita terlahir, percayalah, si pemilik rahim tersebut pasti sangat mencintai kita. Meski ia tak luput dari salah dan penuh dengan kekurangan. Jangan pernah sekali pun menyesali keadaan orang tua kita. Karena Allah telah percayakan mereka untuk membesarkan kita hingga detik ini. :)


di atas udara,
Jakarta menuju Jambi
26 Januari 2013
 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template