Sabtu, 11 Mei 2013

They SEE, they DO

0 comments
Sudah sejauh mana dirimu membina diri, wahai calon Ibu?
Sudah sejauh mana dirimu membina diri, wahai calon Ayah?
Sebelum semuanya terlambat,
pahamilah bahwa generasi mu nanti pasti melihatmu, dan menjadikanmu contoh.
Ingin membentuk generasi sholih dan sholihah, maka sholih-kan dulu dirimu.

Anak-anak adalah penjiplak terbaik orang tuanya :')
Generasi yang baik, Insya'Allah lahir dari seorang ibu yang baik pula.

sumber : youtube

"Hak anak atas orang tuanya adalah memilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al-Qur'an dan memilihkan nama yang baik"
- Umar bin Khattab

Trustworthy

0 comments
Trustworthy, bahasa gaulnya amanah, yang berarti dapat dipercaya. Sebagai seorang mahasiswa, kata "amanah" ini mungkin sudah tidak asing lagi didengar. Amanah adalah menjaga hak orang lain yang Allah perintahkan kita untuk menjaganya. Ya, ada keterlibatan orang lain pada kata amanah. Amanah membutuhkan pertanggungjawaban, tidak hanya pada sesama manusia, namun juga kelak di akhirat, dihadapan Allah.

Beasiswa Aktivis Nusantara adalah Program Beasiswa yang diberikan kepada aktivis dimana penerima manfaat diberikan amanah agar manfaat yang ia terima dari manajemen beasiswa tidak berhenti pada dirinya. Agar uang yang ia dapatkan tidak hanya dijadikan konsumsi pribadi. Agar ia senantiasa berkontribusi untuk lingkungan sekitarnya, baik idenya, tulisannya, ucapannya, maupun uangnya sekalipun.

Amanah itu butuh pertanggungjawaban.
Amanah juga lah yang membuat seorang aktivis tidak asal merancang suatu program. Butuh need assessment, butuh kajian dan seberapa besar dampak dari program yang ia rancang. Karena pertanggungjawabannya tidak hanya sebatas di atas kertas.

Arnova Reswari
-rangkuman Training Value #1 BAKTI NUSA
di Rektorat Univ. Padjadjaran, 11 Mei 2013


"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalidan dalam keadaan mengetahui"
- Q.S Al-Anfal : 27

Lingkaran Bahagia Kami

0 comments

Lingkaran Bahagia Kami, :")
-Video yang diputar saat Penutupan Sekolah Mentor 2013 di Mesjid Asy-Syifaa' FK Unpad

Kamis, 02 Mei 2013

Catatan Temu Nasional Negarawan Muda #4

0 comments

Senin, 29 April 2013

Setelah sholat dan disuguhi sarapan, kami dan Bu Dwi menuju ladang. Ladang wortel dan buncis beliau cukup jauh dari rumah. Kami harus mendaki dan menurun dulu menyisir lereng gunung. Perasaan lelah karena jauh berjalan tidak begitu terasa saat melihat disekeliling kami berubah menjadi hijau, Subhanallah.

Sekitar jam 11an, kami pamit dengan Bapak dan Ibu Dwi. Mereka menyayangkan kami yang cuma sebentar menginap. Hehe. Semoga ukhuwah kita tetap terjalin meskipun harus dipisahkan oleh keadaan.

Dari rumah Pak Dwi, kami menuju rumah Pak RW untuk pengenalan budaya Reog. Reog merupakan salah satu khas Desa Pancot. Beliau juga bercerita tentang asal muasal nama Desa Pancot dan sedikit bercerita tentang Reog di desa tersebut. Dari rumah Pak RW, kami menuju rumah Pak RT untuk pamitan meninggalkan desa. Kemudian lanjut ke tempat wisata Outbond dengan sedikit berjalan kaki. Awalnya, saya males-malesan ikut outbond. Ternyata, setelah dipaksakan melawan rasa mager, ikut outbond saat badan seperti setengah melayang seru juga. :p Outbond nya super-seru, dan ditutup dengan main paintball dan berujung dengan kemenangan tim Biru. *horeee~

Dari Lapangan Outbond, kami tetap harus berjalan kaki, entah berapa kilometer, menuju Penginapan.

Malam ini adalah malam terakhir kami di Tawangmangu. Hiks.
Setelah sholat Isya, kami berkumpul kembali untuk acara Makrab. Semua Universitas menampilkan khas daerah masing-masing. :’)

Selasa, 30 April 2013
Hari ini adalah hari terakhir kami di Tawangmangu. 
Pagi yang cukup mengharukan. 

Setelah penutupan secara resmi dan diakhiri dengan bertukar kado, peserta kembali menuju bus. Kami akan menuju GWO Sriwedari lagi, tapi kali ini bukan untuk nonton wayang orang. Kami disambut oleh mas *saya lupa nama Beliau* di depan halaman GWO Sriwedari, tepat di samping jalan raya. Di sana, kami berdeklarasi sebagai Negarawan Muda, yang InsyaAllah akan membaktikan diri kami untuk Indonesia. Diakhiri dengan goresan tanda tangan kami di sebuah spanduk. :’)
Hasil tukeran kado secara random.
Entah dari siapa kado ini, tapi sungguh bikin terharu :')


Delegasi dari berbagai Universitas


Setelah beberapa kali berfoto, perjalanan dilanjutkan ke Museum Radya Pustaka.

Berakhirlah perjumpaan kami. Kami harus kembali ke habitat masing-masing, merealisasikan janji-janji kami, untuk Islam dan Indonesia tercinta.

Sebelum kembali ke Stasiun Balapan Solo, saya dan teman-teman lain sempat sholat di Mesjid Raya Surakarta dan belanja oleh-oleh di Pasar Klewer loh~ :)

Alhamdulillah, sekian cerita saya. Semoga ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap momen. O:)


“Kita adalah waktu, yang tiap detiknya adalah kehilangan. Kecuali yang menanam biji kebaikan, setiap kehilangan akan menumbuhkan pohon masa depan"
– Yudi Latif 

Catatan Temu Nasional Negarawan Muda #3

0 comments

Minggu, 28 April 2013

Pagi ini lebih super lagi dari pagi-pagi yang lalu, saya dan teman-teman lainnya berkesempatan bertemu Pak Erie Sudewo. Beliau memberi materi Character Building. Saya suka dengan cara penyampaian beliau, lugas dan anti-maintsream. Meskipun beberapa ada yang tidak sesuai dengan idealisme saya, tidak apa-apa, perbedaan itu indah. :D

“Tidak perlu menjadi yang terbaik, tapi selalu lakukan yang terbaik.”
“Lakukan, apa yang bisa kita lakukan!”
-Erie Sudewo

Setelah terwarnai oleh materi keren Pak Erie Sudewo, dilanjutkan dengan program Homestay. Program homestay itu persis seperti program "Jika Aku Menjadi ..." seperti yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Panitia membagi para peserta menjadi 14 kelompok homestayTujuan Homestay adalah peserta berkunjung ke rumah warga desa, ikut merasakan pekerjaan warga desa dan berda’wah untuk warga :D

Untuk mencapai desa, kami harus berjalan kaki di jalan setapak yang cukup banyak bom *baca : kotoran kuda* sejauh kurang lebih 2-3 km. Perjalanan pun penuh pendakian dan penurunan, seperti sebuah roda kehidupan. -_-. Desa yang kami tuju adalah Desa Pancot, Tawangmangu.

Perjalanan menuju Ladang Wortel

Setelah sampai di Desa Pancot, kami berbondong-bondong menuju rumah Pak RT. Tujuan pertama adalah silaturrahim dan tujuan terselubung adalah “bertanya” rumah warga tempat kami akan menginap malam itu.

Saya dan 3 orang teman malam itu menginap di rumah Pak Dwi. Kami disambut begitu hangat oleh Pak Dwi dan Istri. Makan malam bersama dan ngobrol-ngobrol ringan malam itu. Pak Dwi adalah seorang petani wortel, yang punya pekerjaan sampingan “jasa keliling naik kuda”. Beliau punya 1 ekor kuda yang bernama Taro. Kehidupannya sama dengan penduduk lain, sederhana dan bersahaja. Sosoknya begitu bersahabat, sayangnya saya tidak begitu banyak bersuara karena beliau berbicara pake bahasa Jawa. ._.

Istri pak Dwi selalu menyuguhi kami dengan makanan dan teh manis. Ibu juga mengurusi ladang wortel dan buncis. Bapak dan Ibu Dwi mempunyai 2 orang anak, salah satunya bernama Fitri yang sebentar lagi akan masuk SMA. Saat ditanya, ternyata Fitri juga ingin jadi dokter loh suatu hari nanti :)

Melihat kehidupan luar, dan keluar dari zona nyaman membuat saya semakin sadar bahwa Apa yang perlu dikeluhkan di kehidupan saya sekarang?

"Jika kamu mengeluhkan sepatu-sepatumu yang rusak,
maka pikirkanlah orang-orang yang tidak punya kaki"

Catatan Temu Nasional Negarawan Muda #2

0 comments
Sabtu, 27 April 2013

Pagi itu, semua delegasi Bakti Nusa berjalan dari Penginapan menuju Aula FE UNS. InsyaAllah akan ada seminar Nasionar tentang Negarawan Muda dan kontribusinya dalam merawat Indonesia. Berbagai pembicara keren didatangkan oleh pihak panitia, beberapa di antaranya dari Komisi 2, Komisi 4, dan Komisi 5 DPR RI, Ibu Nu (dari Dompet Dhuafa) dan Mas Romi (perwakilan dari Beastudi Indonesia).

Sebelum seminar dimulai, ada penampilan wayang oleh (saya lupa nama Beliau, afwan -_-). Kereeeen! Ceritanya juga inspiratif, masih tentang kepemimpinan. :)

Setelah seminar, akhirnya Bakti Nusa Bandung bisa berkumpul sebentar bersama supervisor kami (kak Gama, ITB 05) *terharu*. Keakraban pun mulai dibangun, dimulai dengan berjalan kaki panas-panasan dari Aula FE menuju Mesjid. >:D

Setelah Sholat Dzuhur, semua peserta menuju bus, bersiap berangkat ke Tawangmangu. Alhamdulillah, sesampainya di Tawangmangu, udara panas Solo berubah menjadi dingin dan sejuk.

Malamnya, kami berkumpul lagi. Acara dimulai dengan penampilan Video masing-masing peserta per Universitas. Fyi, karena ITB dan Unpad begitu istimewa, jadi kami tidak seperti peserta lain yang mewakili Universitasnya masing-masing, hehehe, kami mewakili Bandung.  (>_<) Setelah saling kenal via video, kami dapat materi dari Bu Nu tentang Dompet Dhuafa dan materi dari mas Romi tentang Bakti Nusa.

Pertemuan ini membuat saya malu sekali. “Udah ngapain aja nov buat Indonesia?” “Selama ini kemana aja?” Jujur, saya tertampar dengan berbagai ucapan Bu Nu pagi tadi di FE dan malam ini. Saya memutar otak, melihat kembali lingkungan di kampus saya. Wah, mungkin kita belum terlalu peduli sama negara kita sendiri. Mungkin kita terlalu sibuk sama diri sendiri. Mungkin kita terlalu sombong dengan keahlian sendiri. Nyatanya, yang kita hasilkan masih nol, teman-teman. :’)

Aktivis adalah orang yang telah selesai dengan urusannya sendiri.
Bagaimana bisa ia mengurusi dan memberi manfaat untuk orang lain apabila dirinya sendiri belum selesai ia urusi??

Entah sumber masalahnya berasal dari mana, mahasiswa/i di fakultas saya masih jauh kontribusinya untuk Indonesia. Apalagi saya?? Baca koran tiap hari aja belum bisa, untuk sekedar aware dan tau masalah Indonesia aja belum mampu. ._. Akankah saya hanya mengurusi diri sendiri untuk selama-lamanya? Padahal umur terus bertambah. Maka, peran sebagai khalifah pun harus dipertanyakan kalau hati ini belum juga tergerak untuk berkontribusi dan berubah. ._.

Ah, saya tidak mau menghabiskan umur hanya dengan menjadi mahasiswa, menjadi dokter,  dan selesai. Harus lebih. Harus lebih dari itu. Saya tidak mau hari-hari ini hanya berkutat antara kampus dan kosan. Antara cadaver dan textbook-textbook berdebu. Antara tempat tidur dan meja belajar. Tidak. Saya harus lebih dari itu. Muslim/ah harus lebih dari itu.

Malam itu, pikiran saya agak terganggu. Seperti ada bintang-bintang yang berputar-putar di atas kepala. Saya terbayang akan mimpi-mimpi indah saya untuk Indonesia, minimal untuk kampung halaman saya sendiri. Belum banyak yang bisa dirimu perbuat,Bung! 

Jika tidak bisa melakukannya untuk 240juta rakyat Indonesia, maka lakukanlah perubahan itu, minimal untuk 2 orang rakyat di sampingmu, yaitu ayah dan ibumu.

Catatan Temu Nasional Negarawan Muda #1

0 comments

Tanggal 26-30 April lalu, saya diberi kesempatan belajar di Provinsi tetangga. Jadi ceritanya, Seluruh Bakti Nusa (Unsri, UI, IPB, ITB, Unpad, UNS, UGM) berkumpul di Surakarta dalam rangka temu nasional. Meski awalnya ragu dan bimbang untuk pergi ke Solo dengan alasan klasik *akademik*, tapi Alhamdulillah, setelah sampai di sana, segala keraguan itu pudar, bahkan jadi lupa akademik (-__-“)

Perjalanan ini, sengaja saya tuliskan disini InsyaAllah niatnya bukan untuk pamer apalagi membanggakan diri. Sungguh saya tidak pantas untuk melakukan hal tersebut. Saya sengaja menuliskan, karena sungguh berkesan dan membuat haru. :’) Sungguh, saya sangat  bersyukur berada di antara mereka para Aktivis Muslim nan sholeh dan sholehah. :’) Mudah-mudahan segala yang saya dapatkan di pertemuan hebat tersebut, bisa teman-teman rasakan, melalui tulisan saya yang minimalis ini.

Kamis, 25 April 2013, Jatinangor
Sedikit prolog, Bakti Nusa (Beasiswa Aktivis Nusantara) adalah salah satu program dari Dompet Dhuafa, yang mendukung bidang Pendidikan. Beasiswa ini bukanlah beasiswa biasa. Ada program pembinaan di dalamnya, sehingga bagi aktivis yang menerima beasiswa ini diharapkan segala manfaat yang ia dapatkan tidak berhenti pada dirinya. Hal tersebut berkali-kali diucapkan oleh bu Nu (salah seorang perwakilan dari Dompet Dhuafa, saat bercerita pada saya dan teman-teman aktivis lainnya).

Dari Bandung, perwakilan Bakti Nusa ada 6 orang, dari ITB 2 orang (Fahmi dan Dinar) dan dari Unpad 4 orang (Naf, Khair, kang Wildan, dan saya).

Berawal dari kepergian mendadak kami (Saya, Naf, Khair). Sore itu, tepatnya sekitar pukul 17.00, saya dapat kabar bahwa keberangkatan kami ke Solo, dimajukan dari pukul 07.00 besok pagi menjadi 19.00 malam ini. Saya yang masih di kampus dan berlum packing sehelai pakaian pun, udah riweh ga karuan. ~(>_<)~ Jarak tempuh Jatinangor-Bandung (Stasiun) normalnya adalah 1,5 jam. Tentu saja kalau sore bisa-bisa jalanan dihiasi macet. Belum lagi beberes, saya tidak habis pikir bagaimana caranya menyulap diri agar saat itu bisa langsung ke Stasiun Bandung. Alhasil, kita pun naik ojek ke Cileunyi pukul 17.30 lewat. Kemudian lanjut naik taksi dengan harga agak tidak normal menuju Stasiun Bandung, wuzzzzz! Taksi pun melaju kencang sekencang palpitasi jantung kami saat itu.

Pukul 18.45, kami pun sampai di Stasiun Bandung dan bertemu Dinar (Mahasiswa ITB) *yang mukanya selalu lem-peng* :3 hehe. Pukul 19.00, kereta pun melajuuu~. Ada hal menarik yang terjadi di dalam KA, oke ini memang norak. Tapi saya terharu dengan kemahiran saya ber-wudhu di wc KA. Hiks, menurut saya itu teramat keren *abaikan.

Jum’at, 26 April 2013, Solo
Pukul 4.30, kami pun sampai di Stasiun Balapan, Solo. Solo bergitu panaaaas, subuh-subuh aja udah berasa mendidih. (-_-“) Setelah sholat, kami menunggu jemputan. Karena kami terlalu semangat, sedangkan hotel baru di-booking pukul 08.00 pagi, akhirnya kami diungsikan dulu di kosan panitia. Kosan akhwatnya keren, *lebih keren daripada kosan saya*. Ternyata itu kosan ala pesantren, yaitu setiap mahasiswi yang ngekos disana diwajibkan kuliah Islam di sana. Bisa dibilang "ada kampus di dalam kosan". Bayangkan betapa tingginya militansi akhwat-akhwat disana, kuliah di kosan dan kuliah di kampus yang sebenarnya. :D Jadi, meski kami datang pagi-pagi buta, akhwat-akhwatnya udah rame muroja’ah hafalan. 

Sekitar pukul 8, kami pun dijemput dari kosan panitia menuju penginapan. Pertualangan pun dimulai! Bertemu orang-orang baru, dengan berbagai karakter dan pembawaan yang istimewa. Setelah Ashar, pembukaan Pertemuan Nasional diselenggarakan di Aula penginapan. Tema Temu Nasional tahun ini adalah Negarawan Muda Belajar Merawat Indonesia.

Pembukaan Temu Nasional di Aula Taman Budaya Jawa Tengah


Panggung Wayang Orang Sriwedari, Solo


Setelah sholat Isya, kami bergegas menuju bus untuk pergi ke Gedung Wayang Orang Sriwedari. Katanya sih mau nonton wayang orang. Hehe, ini pengalaman pertama saya nonton wayang orang langsung dengan bahasa 100% Jawa, dan saya hanya bisa diam membisu. -_-“ Malam itu ditutup dengan ucapan Hamdalah. Meski badan agak remuk, tetapi hati tetap bahagia. Sebelum tidur, saya teringat bisikan lembut Naf sore itu…. :””)


Nikmatilah apa yang Allah kasih sekarang buat kita..


Nikmatilah. Apapun keadaannya :)
 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template