Kamis, 02 Mei 2013

Catatan Temu Nasional Negarawan Muda #2

Sabtu, 27 April 2013

Pagi itu, semua delegasi Bakti Nusa berjalan dari Penginapan menuju Aula FE UNS. InsyaAllah akan ada seminar Nasionar tentang Negarawan Muda dan kontribusinya dalam merawat Indonesia. Berbagai pembicara keren didatangkan oleh pihak panitia, beberapa di antaranya dari Komisi 2, Komisi 4, dan Komisi 5 DPR RI, Ibu Nu (dari Dompet Dhuafa) dan Mas Romi (perwakilan dari Beastudi Indonesia).

Sebelum seminar dimulai, ada penampilan wayang oleh (saya lupa nama Beliau, afwan -_-). Kereeeen! Ceritanya juga inspiratif, masih tentang kepemimpinan. :)

Setelah seminar, akhirnya Bakti Nusa Bandung bisa berkumpul sebentar bersama supervisor kami (kak Gama, ITB 05) *terharu*. Keakraban pun mulai dibangun, dimulai dengan berjalan kaki panas-panasan dari Aula FE menuju Mesjid. >:D

Setelah Sholat Dzuhur, semua peserta menuju bus, bersiap berangkat ke Tawangmangu. Alhamdulillah, sesampainya di Tawangmangu, udara panas Solo berubah menjadi dingin dan sejuk.

Malamnya, kami berkumpul lagi. Acara dimulai dengan penampilan Video masing-masing peserta per Universitas. Fyi, karena ITB dan Unpad begitu istimewa, jadi kami tidak seperti peserta lain yang mewakili Universitasnya masing-masing, hehehe, kami mewakili Bandung.  (>_<) Setelah saling kenal via video, kami dapat materi dari Bu Nu tentang Dompet Dhuafa dan materi dari mas Romi tentang Bakti Nusa.

Pertemuan ini membuat saya malu sekali. “Udah ngapain aja nov buat Indonesia?” “Selama ini kemana aja?” Jujur, saya tertampar dengan berbagai ucapan Bu Nu pagi tadi di FE dan malam ini. Saya memutar otak, melihat kembali lingkungan di kampus saya. Wah, mungkin kita belum terlalu peduli sama negara kita sendiri. Mungkin kita terlalu sibuk sama diri sendiri. Mungkin kita terlalu sombong dengan keahlian sendiri. Nyatanya, yang kita hasilkan masih nol, teman-teman. :’)

Aktivis adalah orang yang telah selesai dengan urusannya sendiri.
Bagaimana bisa ia mengurusi dan memberi manfaat untuk orang lain apabila dirinya sendiri belum selesai ia urusi??

Entah sumber masalahnya berasal dari mana, mahasiswa/i di fakultas saya masih jauh kontribusinya untuk Indonesia. Apalagi saya?? Baca koran tiap hari aja belum bisa, untuk sekedar aware dan tau masalah Indonesia aja belum mampu. ._. Akankah saya hanya mengurusi diri sendiri untuk selama-lamanya? Padahal umur terus bertambah. Maka, peran sebagai khalifah pun harus dipertanyakan kalau hati ini belum juga tergerak untuk berkontribusi dan berubah. ._.

Ah, saya tidak mau menghabiskan umur hanya dengan menjadi mahasiswa, menjadi dokter,  dan selesai. Harus lebih. Harus lebih dari itu. Saya tidak mau hari-hari ini hanya berkutat antara kampus dan kosan. Antara cadaver dan textbook-textbook berdebu. Antara tempat tidur dan meja belajar. Tidak. Saya harus lebih dari itu. Muslim/ah harus lebih dari itu.

Malam itu, pikiran saya agak terganggu. Seperti ada bintang-bintang yang berputar-putar di atas kepala. Saya terbayang akan mimpi-mimpi indah saya untuk Indonesia, minimal untuk kampung halaman saya sendiri. Belum banyak yang bisa dirimu perbuat,Bung! 

Jika tidak bisa melakukannya untuk 240juta rakyat Indonesia, maka lakukanlah perubahan itu, minimal untuk 2 orang rakyat di sampingmu, yaitu ayah dan ibumu.

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template