Kamis, 02 Mei 2013

Catatan Temu Nasional Negarawan Muda #3


Minggu, 28 April 2013

Pagi ini lebih super lagi dari pagi-pagi yang lalu, saya dan teman-teman lainnya berkesempatan bertemu Pak Erie Sudewo. Beliau memberi materi Character Building. Saya suka dengan cara penyampaian beliau, lugas dan anti-maintsream. Meskipun beberapa ada yang tidak sesuai dengan idealisme saya, tidak apa-apa, perbedaan itu indah. :D

“Tidak perlu menjadi yang terbaik, tapi selalu lakukan yang terbaik.”
“Lakukan, apa yang bisa kita lakukan!”
-Erie Sudewo

Setelah terwarnai oleh materi keren Pak Erie Sudewo, dilanjutkan dengan program Homestay. Program homestay itu persis seperti program "Jika Aku Menjadi ..." seperti yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Panitia membagi para peserta menjadi 14 kelompok homestayTujuan Homestay adalah peserta berkunjung ke rumah warga desa, ikut merasakan pekerjaan warga desa dan berda’wah untuk warga :D

Untuk mencapai desa, kami harus berjalan kaki di jalan setapak yang cukup banyak bom *baca : kotoran kuda* sejauh kurang lebih 2-3 km. Perjalanan pun penuh pendakian dan penurunan, seperti sebuah roda kehidupan. -_-. Desa yang kami tuju adalah Desa Pancot, Tawangmangu.

Perjalanan menuju Ladang Wortel

Setelah sampai di Desa Pancot, kami berbondong-bondong menuju rumah Pak RT. Tujuan pertama adalah silaturrahim dan tujuan terselubung adalah “bertanya” rumah warga tempat kami akan menginap malam itu.

Saya dan 3 orang teman malam itu menginap di rumah Pak Dwi. Kami disambut begitu hangat oleh Pak Dwi dan Istri. Makan malam bersama dan ngobrol-ngobrol ringan malam itu. Pak Dwi adalah seorang petani wortel, yang punya pekerjaan sampingan “jasa keliling naik kuda”. Beliau punya 1 ekor kuda yang bernama Taro. Kehidupannya sama dengan penduduk lain, sederhana dan bersahaja. Sosoknya begitu bersahabat, sayangnya saya tidak begitu banyak bersuara karena beliau berbicara pake bahasa Jawa. ._.

Istri pak Dwi selalu menyuguhi kami dengan makanan dan teh manis. Ibu juga mengurusi ladang wortel dan buncis. Bapak dan Ibu Dwi mempunyai 2 orang anak, salah satunya bernama Fitri yang sebentar lagi akan masuk SMA. Saat ditanya, ternyata Fitri juga ingin jadi dokter loh suatu hari nanti :)

Melihat kehidupan luar, dan keluar dari zona nyaman membuat saya semakin sadar bahwa Apa yang perlu dikeluhkan di kehidupan saya sekarang?

"Jika kamu mengeluhkan sepatu-sepatumu yang rusak,
maka pikirkanlah orang-orang yang tidak punya kaki"

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template