Rabu, 26 Juni 2013

ISLAM sehari-hari

2 comments
Yang penting yang terabaikan ..
Pertama kali saya liat cover buku baru vbi_djenggotten udah ngebayangin isinya pasti seru dan layak banget dibaca. :D Dan ternyataaaa, 100% dugaan saya benar! Buku ini berisi tentang hal-hal penting, sesuatu yang salah yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, dan kesalahan itu malah dianggap lumrah. Sedih ya. Ironi tepatnya. 

Mas Vbi_djenggotten berhasil membawakan sindiran-sindrian halus terhadap masyarakat kita. Ya, ummat muslim di Indonesia. Ummat Muslim yang katanya sih tergolong  terbanyak kuantitasnya di dunia. Penyampaian dakwah melalui hadits Rasul nya juga ngena banget. :')

Temen saya bilang, "pokoknya seluruh muslim di Indonesia harus baca!" Bener banget sih. Nih ya saya kasih bocoran, buku ini penuh dengan pemaparan kondisi ummat Islam masa kini yang semakin miris dan mengiris. Pasti teman-teman yang sudah membaca akan mengangguk-angguk, meng-iya-kan segala fenomena yang menyedihkan, yang ada di komik ini.

Fenomena-fenomena simpel, yang sudah dianggap biasa saja, padahal salah banget. Misalnya tentang orang yang mengambil tanah seenaknya, padahal itu adalah tanah buat trotoar, buat pejalan kaki, malah diambil buat urusan pribadi (misalnya jualan nasi goreng di trotoar). Kan kasian pejalan kaki, kasian pengendara mobil dan motor, berakibat macet deh. Tentang rokok, tentang penilangan motor di jalan, dan berakhir dengan damai pake uang (: , tentang aurat wanita yang dimana-mana ada, tentang foto pre-weddding :p , tentang kebiasaan makan pake tangan kiri, tentang punuk unta dan fashion jilbab :p , tentang tato adalah seni, tentang ucapan Insya'Allah, sumbangan mesjid di tengah jalan (dan semakin marak pas bulan Ramadhan -_-), tentang mencela makanan :D (jadi inget salah satu channel TV yang ada tayangan koki-koki gitu, terus makanannya dihina-dina. Padahal ratusan orang di jalanan kelaparan, Bung!).

Yang paling saya suka adalah ... :D
tentang sindiran pada mereka yang bergelar haji (^_^). Padahal kan Haji adalah rukun islam ke-5 ya. Kalo haji dijadiin gelar, harusnya juga ada gelar syahadat, gelar sholat, gelar puasa, gelar zakat. :D Lucu ya. Rasulullah aja ga ada gelar haji deh, sahabat Rasul juga gitu. Orang Indonesia, sekali naik haji aja langsung bergelar :D

Terus tentang perayaan Isra' Mi'raj yang hanya jadi tradisi belaka. Hilang makna. Saat ceramah, pada tertidur. Pas edisi ramah tamah (makan-makan :p) pada semangat. Tapi teteeeup sholatnya masih bolong-bolong. -_-



Simpel, sering diremehkan.
Malah dianggap biasa.
Padahal Rasulullah telah menyontohkan kita akhlak-akhlak yang seharusnya ada pada seorang muslim.
Yuk kembali pada Al-Qur'an dan Hadits.

Mari koreksi diri ! :(
H-13 Ramadhan ...

Sabtu, 22 Juni 2013

Ya, Begitulah Uniknya

0 comments


"gue bingung ya Nov sama orang-orang Koleris. Kadang mereka tuh sok-sok kuat, padahal masalah mereka sama banyak dengan orang melankolis. Lalu, kenapa engga diumbar? Atau kenapa sih ga mau sekedar berbagi. Sesusah itukah mengakui kalo sebenarnya mereka lemah? Segengsi itu kah?"

Saya tertawa.

Menjawabnya dengan simpel,
"Ya, sebenarnya itu engga bergantung dia koleris apa engga sih. Tapi mungkin memang kebanyakan begitu. Kalau aku pribadi kadang suka berfikir, menceritakan hal yang tidak enak itu tidak enak. Hidup sudah penuh dengan masalah. Mau menambahnya dengan masalah kita? Bukannya tidak mau berbagi. Ini hanya tentang kenyamanan."

Ini hanya tentang karakter manusia. Itu lah uniknya. Ada tipe pencerita, ada tipe pendiam, ada yang tipe peramai suasana, ada tipe pengacau suasana, ada tipe follower, ada tipe trend setter.

Terkadang, ada hal-hal yang tidak perlu kita ungkapkan secara terang-terangan. Ada hal-hal yang perlu kita 'modifikasi' untuk kebaikan diri sendiri (tentunya untuk hal-hal positif) , seperti berusaha tersenyum meski saat sedih, berusaha menghidupkan suasana agar hati ini menjadi ceria kembali. Banyak hal.

Terkadang, ada banyak hal yang tak perlu dijamahi oleh hati. Bukan tentang matinya rasa empati atau kekurangpekaan. Kita hanya berusaha melibatkan logika. Meski tidak semua hal bisa dilogikakan. Oke, baiklah, mari saya luruskan, kita memang dominan menggunakan logika, dan berusaha mengenyampingkan urusan yang berbau-bau feeling. Meski fitrahnya kadang berkata lain.

Ya, Begitulah uniknya.

Minggu, 16 Juni 2013

Totalitas :)

0 comments
Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda.
Ia hanya mengenal SATU sikap totalitas.
Siapa yang bersedia untuk itu,
maka ia harus hidup bersama dakwah dan
dakwah pun melebur dalam dirinya.
Sebaliknya,
barang siapa yang lemah dalam memikul beban ini,
ia terhalang dari pahala besar mujahid
dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk.
Lalu Allah SWT akan mengganti mereka
dengan generasi lain yang lebih baik
dan lebih sanggup memikul beban dakwah ini."
- Imam asy-Syahid Hasan al-Banna , dalam buku Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah!


"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripadaNya serta ampunan dan rahmat. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
-Q.S An-Nisa' : 95-96


Tidak lah sama antara mereka yang menyeru agama Allah, dengan yang hanya diam dan sholih untuk dirinya sendiri. Maka, saat kita sudah memilih untuk menyerukan agama ini, harusnya tidak ada pilihan lain selain totalitas. Karena, jika tidak, kita kan tergantikan oleh generasi yang lebih mampu mengemban tugas ini.

Karena janji Allah adalah sepasti-pastinya janji.

*sebuah pengingat diri yang terkadang masih mementingkan diri sendiri :(

Kamis, 13 Juni 2013

Azzahra Avicenna #2

0 comments
Edisi komik Akhwat A3
Yup, dalam rangka menyambut 2 tahun lebih kita bersama, maka saya tiba-tiba random pengen gambar :3

Khusus buat Cikgu yang sebentar lagi mau move on ke kosan lain, semoga nanti pas koas kami bersatu kembali :')


Kamis, 06 Juni 2013

Syar'i everywhere ..

0 comments
Saya kepikiran ngegambar ini, karena beberapa kali melihat realita akhwat yang "mendadak" pakaiannya berubah karena suatu acara/kegiatan, sebut saja kalo kondangan, wisuda, atau bahkan walimahan (T^T)/|
Mungkin banyak faktor kali ya yang menyebabkan demikian, salah satu "pembelaan" yang sering saya dengar sih, katanya, faktor keluarga ._.

Sedih sebenarnya, di acara seindah resepsi pernikahan dan wisuda kita yang cuma sekali seumur hidup ternoda cuma karena pakaian kita ga disukai Allah SWT. Astaghfirullah ._.

Entahlah, semoga kita bisa bercermin pada tokoh fiktif yang bernama AsySyifaa ini ^^, AsySyifaa, akhwat manis yang ceritanya mau ke Jepang, pake yukata :3 . Namun lihat tuh hijabnya AsySyifaa masih tetap bikin ia manis. :)

Do'a saya untuk diri sendiri dan teman-teman yang membaca blog ini, semoga kita bisa selalu istiqomah dalam hal-hal prinsipil seperti ini, dimanapun dan kapanpun.
Aamiin :')



Selasa, 04 Juni 2013

Dunia adalah Perhiasan

0 comments
di sebuah kosan, di siang hari yang cerah,
saya iseng ngegambar ini saat menghafal draft "Appendicitis" .. :3

Pengen banget deh jadi sholihah :')

Senin, 03 Juni 2013

Hadiah untuk Sang Pemenang

0 comments
Berbicara tentang amanah adalah berbicara tentang “sesuatu” yang sangat melekat pada diri seorang manusia, bahkan sejak pertama kali ia keluar dari rahim ibunya. Bagaimana tidak? Seorang bayi yang tak berdaya tersebut lahir ke dunia sudah pasti mengemban minimal 2 amanah dalam hidupnya, yaitu sebagai seorang hamba dan sebagai seorang khalifah. Setelah ia bertumbuh, maka amanah sekunder lain pun berdatangan, mulai dari amanahnya sebagai seorang anak, sebagai seorang pelajar, sebagai seorang pemimpin di kelompoknya, hingga kelak mengemban amanah sebagai pemimpin keluarga dan pemimpin Negerinya. Lalu, apa itu amanah?

Amanah adalah menjaga hak orang lain yang Allah perintahkan kita untuk menjaganya. Ada beberapa kata kunci yang saya cerna dalam satu definisi tersebut. Yang pertama, Amanah melibatkan kepentingan orang lain, Amanah sejatinya diberikan oleh Allah, dan Ada “pertanggungjawaban” kita terhadap amanah.


Amanah dan Keterlibatan Orang Lain
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda :
“Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya :
‘Ambil lah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas’.
Si Pemilik tanah berkata kepadanya : ‘Saya menjual tanah kepadamu berikut isinya’.
Akhirnya, keduanya menemuai seseorang untuk menjadi hakim….” –kutipan H.R Bukhari dan Muslim

Sesederhana itu lah aplikasi dari “amanah”. Dari cerita tersebut, pembeli menyadari bahwa emas di dalam tanah tersebut adalah hak orang lain, maka sudah serharusnya ia memberi tahu tentang emas tersebut kepada penjualnya. Sebaliknya, Penjual tanah pun menganggap emas tersebut sudah menjadi hak pembeli, sehingga ia tidak perlu mempermasalahkannya.



Amanah adalah Hadiah
Seperti yang diulas pada paragraf awal bahwa kita terlahir disertai amanah. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari amanah. Amanah tidak terus-terusan menyangkut urusan materil, jabatan dan hal-hal berbau fisik. Setiap kata yang diucapkan adalah amanah, memenuhi hari-hari kita dengan belajar dan beribadah adalah amanah, memperlakukan saudara dan teman-teman dengan baik adalah amanah, bahkan berisitirahat pun amanah. Akan tetapi, satu yang perlu dipahami, bahwa Amanah itu tidak pernah salah memilih siapa yang akan memikulnya. Meski dirasa manusia yang lemah ini tidak siap atau semua amanah itu terasa sangat berat, Insya’Allah manusia yang paham bahwa amanah adalah itu hadiah, titipan dan tanda kasih sayang Tuhannya kepadanya, tidak lah mustahil bahwa ia bisa memenangkan dirinya atas amanah tersebut.



Amanah dan Kebermanfaatan Besar
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Pro bono publico, yang artinya “for the public good”, yaitu setiap amanah dilaksanakan untuk kepentingan besar. Ada misi kebermanfaatan besar. Dimana efek manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemikul amanah tersebut, namun sistemik, menyebar ke ruang lingkup yang lebih besar. Contoh simpelnya, seorang aktivis tidak hanya beroganisasi untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri, ada misi besar berupa keteladanan yang hendak ia sebarkan untuk orang-orang disekitarnya.


Amanah dan Pengorbanan
Efek yang besar tentu perlu pengorbanan besar. Ya, kebermanfaatan besar lahir dari pengorbanan yang besar. Pengorbanan untuk mengesampingkan ego pribadi dan untuk lebih mendahulukan kepentingan orang lain. Sebagai manusia, multiple agent, kita dituntut tidak hanya oleh 1 amanah bukan? Begitu banyak. Tentu saja tidak ada toleransi untuk mendzalimi amanah satu dengan yang lain. Lalu bagaimana cara untuk menyelaraskan semua amanah tersebut? Berkorban lah, berkorban untuk memperbesar kapasitas diri. 


Akhir dari sebuah Amanah
Terkesan menyeramkan, akhir dari amanah adalah pertanggungjawaban. Ya, pertanggungjawaban kita kepada pihak-pihak terkait (orang lain), pertanggungjawaban kita pada diri sendiri, dan yang paling utama adalah pertanggungjawaban kita pada Pemberi amanah tersebut, Allah SWT. Sekecil apapun amanah, sekecil apapun kontribusi terhadapnya, ada beban pertanggungjawaban terhadapnya. Mau menjadi pemenang atas amanah ini, mau jadi pemikul amanah yang biasa-biasa saja, mau yang jadi “hanya sekedar menjalankan” atau bahkan mau menjadi “yang lalai” ? Kita sendiri yang memutuskan! Suka atau tidak, energi yang digunakan untuk menjalankan amanah akan tetap sama, rasa lelah nya sama, rasa jenuhnya sama, waktu yang dihabiskan pun sama, lalu kenapa tidak dijalankan dengan sebaik-baiknya saja? :D
 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template