Sabtu, 22 Juni 2013

Ya, Begitulah Uniknya



"gue bingung ya Nov sama orang-orang Koleris. Kadang mereka tuh sok-sok kuat, padahal masalah mereka sama banyak dengan orang melankolis. Lalu, kenapa engga diumbar? Atau kenapa sih ga mau sekedar berbagi. Sesusah itukah mengakui kalo sebenarnya mereka lemah? Segengsi itu kah?"

Saya tertawa.

Menjawabnya dengan simpel,
"Ya, sebenarnya itu engga bergantung dia koleris apa engga sih. Tapi mungkin memang kebanyakan begitu. Kalau aku pribadi kadang suka berfikir, menceritakan hal yang tidak enak itu tidak enak. Hidup sudah penuh dengan masalah. Mau menambahnya dengan masalah kita? Bukannya tidak mau berbagi. Ini hanya tentang kenyamanan."

Ini hanya tentang karakter manusia. Itu lah uniknya. Ada tipe pencerita, ada tipe pendiam, ada yang tipe peramai suasana, ada tipe pengacau suasana, ada tipe follower, ada tipe trend setter.

Terkadang, ada hal-hal yang tidak perlu kita ungkapkan secara terang-terangan. Ada hal-hal yang perlu kita 'modifikasi' untuk kebaikan diri sendiri (tentunya untuk hal-hal positif) , seperti berusaha tersenyum meski saat sedih, berusaha menghidupkan suasana agar hati ini menjadi ceria kembali. Banyak hal.

Terkadang, ada banyak hal yang tak perlu dijamahi oleh hati. Bukan tentang matinya rasa empati atau kekurangpekaan. Kita hanya berusaha melibatkan logika. Meski tidak semua hal bisa dilogikakan. Oke, baiklah, mari saya luruskan, kita memang dominan menggunakan logika, dan berusaha mengenyampingkan urusan yang berbau-bau feeling. Meski fitrahnya kadang berkata lain.

Ya, Begitulah uniknya.

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template