Senin, 23 September 2013

Mencintai Kehidupan(nya)

0 comments
Saya nemu tulisan bagus lagi nih dari artis tumblrMASGUN . Saya suka tulisan ini dan sayang banget kalo ga dibagi di membranteladan. hihi :)
Selamat membaca !
Hakikatnya, ketika orang mencintai orang lain. Maka sejatinya ia harus bisa mencintai kehidupannya, kehidupan orang yang dia cintai tersebut. Ketika ia memutuskan menerimanya. Ia tidak seharusnya mencintainya sebagai satu individu yang berdiri sendiri, namun satu individu dengan kehidupannya. 

Kehidupan itu meliputi masa lalunya, masa depannya, masa sekarangnya. Meliputi keluarganya, teman-temannya, pekerjaannya, impian dan cita-citanya. Jika ia mencintai seseorang sebagai individu tunggal. Maka sejatinya ia hanya mencintai jasad, bukan jiwa. 

Kenyataan di kehidupan berkata lain. Banyak yang mencintai seseorang namun sulit menerima masa lalunya. Sulit menerima bagaimana kondisi keluarganya. Sulit menerima pekerjaannya/ profesinya. Sulit menerima apapun selain dirinya  sebagai seseorang yang terlepas dari semua itu. 

Akibatnya banyak yang kemudian sibuk menyembunyikan masa lalu, rendah diri dengan pekerjaannya, tidak mau mengenalkan keluarganya yang mungkin dianggapnya tidak berada/tidak baik, rusak (broken home), atau apapun yang menurutnya bisa membuat orang lain enggan dekat dengannya. 

Mencintai seseorang adalah mencintai orang lengkap dengan kehidupannya. Sang Muhammad pun mengisyaratkan memilih kriteria agama. Itu adalah isyarat yang sangat baik karena agama (apabila seseorang tersebut memegang teguh) maka kehidupannya yang lain akan menjadi baik sebab tuntunan agama menjadi pegangannya. 

Namun, sebagai manusia. Memilih seseorang pun mari lihat sebagai seorang manusia yang lengkap dan lebih manusiawi. Masa lalunya, impiannya, dan lain-lain. Orang yang belum baik bisa diperbaiki. Maka, saya khawatir ketika seseorang mengamalkan saran nabi yang baik itu dengan satu sudut pandang saja. Maka, akan sangat banyak kehidupan yang mungkin tidak bisa diselamatkan. 

Jika saja laki-laki salih mau memperbaiki agama perempuan yang belum baik. Maka akan ada satu kehidupan yang terselamatkan. Atau sebaliknya. Ini hanya sudut pandang yang lain dan sangat subjektif menurut saya sendiri. 

Mencintai seseorang itu berarti mencintai kehidupannya. Seandainya kehidupannya belum baik, sejauh mana ia bisa menerimanya. Jika masa lalunya begitu kelam, sejauh mana ia bisa melihat masa depannya. Jika hatinya tersesat dalam kehidupan, sejauh mana ia berani mengambil keputusan untuk membimbing. Jika keluarganya tidak begitu baik, sejauh mana dia bisa menerima semua itu. Jika kebiasaan sehari-harinya tidak berkanan dihati, sejauh mana ia bisa meluruskan. Jika agamanya kurang baik, sejauh mana ia bisa mengajarkan. 

Menerima seseorang lengkap dengan kehidupannya sangatlah sulit. Hal ini tidak akan terjadi dalam proses cinta ala remaja yang penuh kamuflase. Memperlihatkan yang terbaik dan menutup rapat-rapat semua keburukan. Memperkenalkan yang baik-baik saja dan hanya mau menerima yang baik-baik saja. 

Maka coba pertanyakan pada diri masing-masing, ketika pun rasa itu masih dipendam dalam diam yang sunyi. Sejauh mana kamu bisa menerima orang itu lengkap dengan seluruh kehidupannya, atau jangan-jangan kamu hanya kagum pada kebaikannya. Menutup mata pada kehidupannya yang lebih luas. 

Mari kita koreksi masing-masing. Sejauh mana kita bisa sanggup menerima semua itu.
- Kurniawan Gunadi

***

www.flamingopink.com.au

Membaca tulisan MASGUN, membuka pikiran saya tentang hakikat cinta sesungguhnya. Tentang penerimaan dan keikhlasan. Tidak jarang, kita lihat fenomena-fenomena aneh tentang cinta. Tentang seseorang yang berkedudukan tinggi, yang jatuh cinta pada wanita biasa-biasa saja. Tentang seseorang yang berfisik menarik hati, yang jatuh cinta pada wanita berpenampilan sangat sederhana. Tentang wanita yang sangat sholih, menikahi pria yang belum sholih, ataupun sebaliknya.

Ya, cahaya itu Allah yang punya. Kita tidak tahu betapa indahnya takdir Allah, telah disusun sebaik-baiknya untuk kita. Kita kadang terlalu bodoh, terlalu cinta duniawi, sehingga kadang susah menerima kenyataan yang sudah Allah rancang.

Cahaya akan tetap ada, selama manusia itu hidup. Perubahan seseorang, tak pernah kita sangka-sangka. Membuat kita terheran-heran. Allah, Maha Pemberi Cahaya, ajari kami cara bersyukur dengam mencintai takdirmu seutuhnya. :)

Ayo perbaiki diri.

Senin, 09 September 2013

Proses Menuju Penjaga Al-Qur'an

0 comments

Proses menuju kesana sangat panjang. Bagi yang hafalannya sudah banyak, jangan berbahagia dulu. Bersyukur boleh, tapi ternyata yang namanya menjadi hafidz/ah tidak berhenti sampai kita sudah bisa menghafal 30 juz. Menjadi penjaga Al-Qur’an, ternyata tentang belajar seumur hidup. :”“

Bagi yang hafalannya masih sedikit. Semangat! Allah turunkan Al-Qur’an, untuk menjadi mudah, bagi siapapun hambanya. :”) Yang penting, harus kuat di awal, kuat di tengah, dan kuat di akhir. Sabar dan istiqomah.

Ada beberapa step menuju hafidz/ah Al-Qur’an, yaitu :

1. Tilawah
Rajin tilawah adalah salah satu kunci mengakrabkan diri dgn Al-Qur’an. Perlahan-lahan, kita harus memperbaiki tajwidnya, agar mempermudah menghafalkan Qur’an. Mulailah memperpanjang durasi tilawah. Mulai dari 1-5 lebar setiap duduk (setiap baca), 1 juz setiap duduk. Hingga mencapai durasi ideal yaitu 3 juz tilawah tiap duduk. Semakin banyak kuantitas tilawah, semakin sering khatam, dan perputaran surat demi surat semakin sering.

2. Ziyadah (Setor Hafalan)
Idealnya, jika ingin menjadi hafidz/ah selama 3 tahun, kita harus mampu setoran 1 halaman/hari atau 3 baris/sholat. Sehingga kurang lebih dalam 1 minggu mampu setor 5 halaman. :”’

3. Muroja’ah
Hafal 30 juz Al-Qur’an bukanlah akhir perjuangan. Itu baru awal perjuangan. Seorang hafidz/ah akan menghadapi banyak sekali tantangan dalam menjaga hafalannya. Karena itu, harus tetap sering muroja’ah.

4. Hafalan yang Kokoh
Mengokohkan hafalan dengan tasmi’ 30 juz nonstop. Diulang. Minimal 20 kali.

5. Rakhshih
Setelah hafalan semakin kokoh. Hafidz/ah harus melalui semacam ujian acak surat tertentu. Tujuannya adalah agar hafalan yang kokoh itu dilafalkan lancar seperti air mengalir. *sangking udah hafal banget :”“

6. Munaqosyah
Ini yang paling bikin terharu. Hafidz/ah diuji di depan orang tuanya, ulama, pemuka masyarakat dan di depan ummat. :”“
Kata Ustad, ga sedikit orang tua yang nangis, bahkan sampai pingsan, liat anaknya menjadi seorang hafidz/ah.

7. Sanad
Seperti Rasulullah SAW :')

- Ust. Suherman, Mesjid Habiburrahman

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template