Jumat, 31 Januari 2014

#1Hari1Ayat: Special Challenge #BackToSchool

Alhamdulillah, tidak terasa ini adalah tulisan terakhir saya di bulan Januari. Jazkillah khairan katsira mbak Prima untuk lomba #1Hari1Ayat nya. Lombanya luar biasa, dulu saya pernah terfikir juga untuk membuat project seperti ini di blog, tetapi belum terwujudkan hingga saya ikut #1Hari1Ayat, semoga semangat dakwah kita selalu berapi-api hingga akhir nafas ini, hingga nantinya menjadi saksi bagi kita semua saat Yaumul Hisab nanti, Aamiin. :")

Berbicara tentang kembali ke sekolah berarti berbicara tentang semangat baru.
Horeee! (>.<) temanya pas sekali karena Februari nanti saya akan memasuki dunia profesi (yang juga disebut koas sebagai bahasa gaulnya :p). Dunia kedokteran adalah dunia yang sangaaat panjang masa pendidikannya, begitu kata dosen saya, jadi jangan mengeluh jika bahkan saat teman-teman beda profesi telah bisa menikmati gajinya sendiri, kami masih saja belajar di rumah sakit dan masih menadah dana dari orang tua hiks. Semangaaat!

Sejak saya berusia lima tahun, ketika ditanya oleh guru TK, dengan mantap saya menjawab, ‘Aku ingin menjadi dokter bu!’ Seperti anak kecil kebanyakan, saya hanya tahu bahwa dokter bisa membantu menyembuhkan penyakit, bahwa dokter itu menolong sesama dan tugasnya mulia. Hingga cita-cita itu terus terpatri di dalam diri #eaaa. Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan saya.

Tiga setengah tahun belajar di kampus, hingga sekarang telah menjadi Sarjana tentu banyak mengajarkan saya tentang sebuah arti pembelajaran. Di kampus, sejak pertama kali saya ikut ospek, senior dan dosen-dosen saya selalu menanamkan, ‘Kalian akan jadi dokter suatu hari kelak? Tapi mau jadi dokter seperti apa?’ Pertanyaan tersebut membuat saya berfikir, saya ingin menjadi dokter seperti apa nanti? Apakah dokter yang berorientasi pada materi atau menguatamkan keselamatan pasien? Saya memutuskan untuk menjadikan Allah sebagai tujuan, dan berusaha mengaplikasikan itu selama menjalani profesi sarjana kedokteran dulu. Salah satunya adalah dengan tidak menyontek saat ujian karena saya ingin jujur pada diri sendiri dan ingin berusaha dengan sebaik-baiknya usaha untuk pasien-pasien saya kelak. Kemudian, saya juga ingin menyebarkan indahnya Islam saat saya menjadi dokter nantinya. Masih terbayang dalam ingatan saya saat teman saya dinasehati tentang sholat oleh salah seorang dokter Spesialis Orthopedi saat dia berobat, aaah saya ingin seperti itu. :")

Sudah tidak heran lagi bukan bahwa umumnya masyarakat awan melihat profesi dokter identik dengan kekayaan dan cukup eksklusif. Sehingga sudah bukan rahasia bahwa terkadang kita mendapati dokter yang berperilaku kurang ramah atau yang pelit informasi tentang penyakit pasien kepada pasien tersebut. Ini tentu membuat saya sedih, karena terkadang berlaku parts prototo, tidak semua dokter begitu kok. :( Salah seorang teman pernah bercerita tentang perlakuan dokter padanya yang kurang ramah. Ketika bertanya tentang penyakitnya, dokternya cuma memerintahkan “minum obat saja..!” Wah..wah.. Berbeda sekali dengan dokter yang diceritakan oleh dosen saya. Belia bercerita tentang pasiennya yang merasa sembuh hanya dengan bercerita keluh kesahnya kepada beliau. Tanpa obat. Subhanallah.

Dalam hati kecil saya, saya sangat ingin menjadi dokter yang seperti itu, menjadi dokter yang dicintai keluarga dan masyarakatnya. Yang menyembuhkan kan Allah, bukan dokter, dokter hanyalah hamba perantara. Lalu apa yang harus disombongkan? Apa yang harus dieksklusifkan? Bukankah yang Maha Pemberi Ilmu itu Allah?


"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Luqman :18)



Bagi saya, belajar adalah proses sepanjang hayat, pun saat saya menjadi dokter kelak. Namun, setiap proses pembelajaran selalu ada tantangan. Tantangan terbesar adalah bagaimana cara kita untuk menjadi seperti padi. Yup, semakin berisi semakin merunduk. Tangan boleh menggapai langit tertinggi, namun kaki harus tetap berpijak di bumi. Yup, itulah yang saya sebut sebagai karakter. :) Seperti jargonnya SMA Negeri 3 Bandung, Knowledge is Power, but Character is more”.


Apalah artinya ilmu setinggi langit jika tidak diikuti dengan karakter yang baik. Ilmu anatomi, histologi, fisiologi mungkin bisa kita pelajari di buku yang tebal-tebal, akan tetapi karakter? Belajar dari mana?? Simpelnya adalah selalu melihat sekitar, bahwa di atas langit tentu ada langit bukan? Apalah artinya semua ilmu yang kita anggap banyak, padahal sangaaaaaat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah. Jadi, mari kolaborasikan, semakin kita menuntut ilmu semakin pula mendekat pada Allah agar terhindar dari hal-hal negatif, terutama sifat sombong.

Salah satu resolusi tahun 2014 ini adalah aktif di kegiatan sosial luar kampus. Bersama teman-teman Bakti Nusa Bandung  inshaa Allah kami akan menjalankan gerakan sosial pertama kami yang bergerak dalam empowering disable. Sedikit banyak gerakan ini berhubungan dengan profesi saya nantinya sebagai dokter, yaitu berhubungan dengan manusia di semua kalangan, baik yang normal ataupun yang berkebutuhan khusus. Sekaligus untuk melatih diri ini agar lebih peka terhadap orang lain.

Wah, ini akan menjadi sangat menyenangkan mudah-mudahan! Terutama bagi saya yang untuk pertama kalinya berkecimpung di dunia sosial (non-medis), juga sebagai tantangan bagi saya. Saya kasih bocoran sedikit deeeh, nama gerakan sosial kami adalah Thisable Creative, sasarannya rencananya kepada tuna daksa di Bandung. Bagi teman-teman yang tertarik bergabung bersama kami, belajar bersama kami, feel free to come pada acara promosinya di ITB pada tanggal 1 Februari nanti (besok).  :") *Loh kok ini jadi promosi, hehehe. (^O^)

Alhamdulillah. Semoga salah satu resolusi tahun ini terwujud dan bisa menjadi salah satu proses pembelajaran bagi saya dan teman-teman. Berbagi dan bermanfaat bagi sesama, di tengah kesibukan aktivitas akademik dan amanah kami yang lainnya. Bi' idznillah! :)



Jambi, 31 Januari 2014

0 comments:

Posting Komentar

 

Arnova Reswari Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template